ANAK SEBAGAI CERMINAN

Anak adalah pelanjut dari kebiasaan yang ditirunya dari orang dewasa. Bagaimana mereka bersikap, makan, jalan, berpakaian, bermain kecenderungannya memiliki sifat-sifat yang cenderung sama dengan orang yang dianggapnya contoh (figuritas). Anak berkembang sesuai dengan kondisi lingkungan dimana mereka banyak menghabiskan waktu dan dengan siapa mereka banyak bergaul/bermain.

Idealnya hubungan antara orang dewasa dengan anak tidak mesti memaksakan kemauan anak menuruti apa yang menjadi keinginan kita (orang dewasa). Apa yang menjadi lekatan dalam tubuh kita selayaknya dapat memberikan pengertian kepada anak, karena kita pernah menjadi anak dan -pastinya- anak belum pernah dewasa. Tetapi, kondisi yang ada adalah sebaliknya keinginan anak direduksi dan ditekankannya kemauan anak untuk mengikuti kemauan orang dewasa. Di sisi lain -sadar atau tidak sadar- diwujudkan menghilangkan akses diri bahwa kita memposisikan diri sebagai anak. Hal ini bukan berarti membawa kita regresi menjadi anak kecil (childist), tetapi lebih kepada empati yang kita upayakan bagaimana kita memposisikan sebagai dirinya (anak).

Mengingat sosok anak sebagai potensi manusia dengan segala keterbukaan dia mau menerima segala bentuk dari nilai-nilai luar yang masuk ke dalam dirinya (internalisasi). Anak menjadi cermin bagi siapa/apa saja yang ada dihadapannya. Dia (anak) dengan segera menyerap segala bentuk nilai yang dianggapnya pantas. Pemasukan nilai dari lingkungan : (a) orang tua, (b) teman, (c) masyarakat, (d) produk media ; tontonan televisi, lagu, alat komunikasi, dan lain-lain. Keempat faktor tersebut yang dapat membuat anak membentuk karakternya.

Ketika anak selalu dihadirkan dengan sosok kedua orang tua yang kerap mengalami konflik negatif, tidak keliru anak akan cenderung bersikap temperamental yang mudah mengeluarkan rasa emosinya, atau sebaliknya menutup diri (introvert) karena anak merasa apatis dengan perilaku orang dewasa yang suka bersitegang dengan konflik-konfliknya. Teman sebagai bentukan kelompok (peer) yang pada posisi tertentu bisa menggantikan peran kedekatan keluarga atau bahkan lebih. Sebagai contoh, pengamatan penulis dalam konteks anak jalanan[i], bahwa mereka mempunyai bentuk solidaritas yang kuat dan mengikat dibandingkan dengan hubungan kekerabatan berdasarkan darah. Maka tidak menutup kemungkinan teman mempunyai andil yang cukup besar dalam mempengaruhi anak sebagai diri yang berkarakter.

Masyarakat (society) sebagai bentuk interaksi yang cukup luas dibanding dengan beberapa faktor lainnya. Dengan banyak elemen yang masuk dalam masyarakat, dari pemerintah (state aparatus), civil society (lembaga swadaya masyarakat, pesantren, karang taruna, gerakan pemuda, organisasi sosial-kemasyarakatan), dan corporate (lembaga usaha dalam bidang keuangan (bank), perindustrian, pertanian, pariwisata dan media. Maka kemajemukan nilai ini seharusnya menjadi kondisi positif dalam menangani suatu permasalahan. Ketika anak ke dalam ranah publik (public sphere), yaitu permasalahan anak adalah permasalahan bangsa dan negara. Maka menjadi kepentingan seluruh pihak untuk memberikan perhatian kepada penyelesaian permasalahan anak. penyelesaian yang tidak berdasarkan nilai kuratif yang kebanyakan bermain di pentas permukaan. Melainkan sekaligus di dalamnya ada langkah-langkah preventif guna mencegah timbul masalah lain (penjamuran masalah). Hal ini dapat dilihat dengan akar permasalahan anak tidak banyak dibahas dalam penyelesaiannya. Akar yang sebagai inti dari tubuh masalah dan biasanya tidak nampak ke permukaan. Hal ini bisa dicermati dengan analisis yang baik, dan tidak berbicara seputar dana dan teknis semata.

Permasalahan yang sederhana namun mendasar halnya kepada labeling anak jalanan yang senantiasa berkesan negatif dalam persepsi masyarakat semestinya perlu diperbaiki. Jika seorang anak dengan permasalahannya (negatif) untuk menjadi baik maka dudukkan anak sebagai sesuatu yang positif dulu. Sebelum ke ranah praktis, mulailah dengan langkah ide (persepsi terhadap anak). Hal ini menjadi sesuatu yang rumit juga karena masyarakat –dengan bentuk kemajemukannya – tidak gampang untuk dipersepsikan dalam satu nilai. Maka perlunya mediasi dan tanggung jawab peran masing-masing pihak. Mediasi yang dilakukan dengan adanya penegakkan hukum dan pembentukan kebijakan yang mengikat oleh pemerintah yang didorong oleh keikutsertaan pihak lain dalam mendukung realisasi dari kebijakan tersebut. Perusahaan dengan bentuk CSR (Corporate Social Responsibility), dan lembaga-lembaga pemasyarakatan yang berperan aktif dalam menggali potensi positif sesuai dengan bidang masing-masing.

Faktor yang lainnya adalah media, yang kerap kali menjadi faktor pemanis bagi anak dalam bermain. Dan dibandingkan faktor-faktor lainnya, media merupakan faktor yang kuat dalam menginternalisasikan nilai. Tidak sedikit anak jalanan menghabiskan waktunya melalui produk media elektronik, seperti : smsan, nonton tv, dengerin lagu, ataupun main game dan internet[ii]. Dan mungkin bisa dicoba kepada anak kita ketika ditanyakan cita-citanya mau jadi apa, sedikit-banyaknya jawaban yang keluar dari anak dipengaruhi oleh faktor media. Mungkin dia ingin menjadi artis karena selalu nonton sinetron atau acara yang ditayangkan dalam tv, atau ingin menjadi penyanyi / boy band seperti si “x” karena dia terbiasa mendengarkan / menonton lagu tersebut. Media sebagai bentuk yang baik tergantung dari pengambilan manfaat darinya, dan menjadi kebalikannya ketika tidak ada kontrol tepat dalam menghindari anak sebagai korban kebudayaan (victim of culture). Hal ini perlu ketegasan keluarga dalam membimbing anak, pemerintah dalam bentuk regulasi kebijakan media, dan industri media sendiri sebagai penghasil informasi-informasi yang secara tidak langsung memberikan warna pada karakter anak bangsa.

Internalisasi nilai pada diri anak tidak secara mutlak diterimanya karena berprinsip manusia adalah makhluk yang berakal dan berbudi, maka tidak semua kondisi lingkungan ia serap dan menjadi duplikasi cerminannya. Maka akan ditemukannya pembeda pada diri anak sebagaimana karakter dirinya yang unik. Faktor kuat yang mempengaruhinya tergantung kepada stock of knowledge (pengetahuan bawaan) anak sendiri. Stock of knowledge ini bisa dibangun melalui pendidikan, kasih sayang, perhatian, apresiasi, dan pemahaman sprititual anak. Dari sini anak mulai dididik sebagai manusia yang bebas, mandiri dan kreatif. Memang faktor ini tidak bisa menjadi ukuran baku bagi anak karena tergantung kepada seberapa besar perbandingan antara stock of knowledge anak dengan arus internalisasi informasi dari luar, dan harapannya kita mendampingi anak bangsa lebih baik. Semoga***

Oleh: Irwan Fauzi

(Satuan Bhakti Pekerja Sosial  Kementerian Sosial  di Rumah Singgah dan Belajar Diponegoro, Yogyakarta.)


[i] Observasi jalanan dan wawancara dengan senior anak jalanan di daerah Sleman, Juni 2011

[ii] Pengamatan penulis pada anak jalanan di sekitar Pertigaan Colombo, Gejayan, Yogyakarta, Mei 2011.


donasi q

Artikel Lainnya :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s