Anak Balita Perlu Bantuan dan Perhatian

Bayi di PantiKemiskinan di Indonesia menjadi faktor utama melonjaknya penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Jumlah anak-anak yang ditelantarkan orang tua, semakin hari semakin meningkat, bahkan anak balita yang ditinggalkan/dibuang oleh orang tua semakin sering kita dengar di media cetak maupun media elektronik.

Hal tersebut membuat Direktorat Pelayanan Anak terus berupaya keras untuk mendobrak stigma pelayanan sosial agar tidak dianggap sebagai masalah yang tak penting. Dalam UUD 1945 jelas dikatakan negara berkewajiban menanggung orang miskin dan anak terlantar. Namun dalam mengalokasikan anggaran seolah-olah sebagai amal atau charity, jauh dari anggaran untuk bidang lain.

Perkembangan anak pada usia dini (sampai dengan umur 6 tahun) berada dalam usia periode emas (golden age), yaitu masa dimana anak memiliki kemampuan optimal dalam mengembangkan keseluruhan karakter diri sesuai dengan stimulus dan ini berpotensi anak dirangsang secara optimal. Maka kelak proses pembentukan dan perkembangan karakter kepribadiannya pada masa anak-anak, dan proses menuju dewasa akan mengalami berbagai hambatan secara fisik, mental dan social. Maka diharapkan anak usia dini memperoleh dukungan lingkungan social berupa pengasuhan, pemeliharaan, perwalian, pembiayaan, pendidikan, pembinaan dan perlindungan sejak awal. Kunjungan yang dilakukan oleh Direktorat Pelayanan Sosial Anak ke TPA Inawah di jalan Rancing Centre AA. 5 Kota Makasar membuka pikiran kita bersama untuk mendobrak pelayanan di lokasi tersebut. Terletak di pinggiran kali dan tempat yang kumuh dan pekerjaan orang tua rata menarik beca dengan penghasilan antara Rp. 10.000 – 20.000/harinya. Dengan kondisi tersebut anak balita tidak memperoleh kesempatan bertumbuh dan belajar dengan baik. Hal ini sangat memprihatinkan, seharusnya ada yayasan yang menangani anak terutama anak balita dilokasi tersebut. Menurut penuturan Primadita, S.Sos satuan bhakti pekerjaan sosial ( sakti Peksos) dilokasi tersebut mengatakan, “seharusnya harus didirikan yayasan anak balita di tempat ini, saya bahu membahu dengan pekerja sosial masyarakat disini berupaya memberikan pelayanan yang diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan anak balita, seperti belajar dan bermain, namun kami perlu tempat dan dana untuk melakukan pelayanan di tempat ini,” begitu juga penuturan dari ibu Leli, ibu Leli menceritakan ,”cucu yang saya bawa ini ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, saya sebenarnya tidak kuat lagi merawat anak ini sebab saya harus mencari uang untuk membantu suami saya sebagai tukang beca, namun apa boleh buat saya harus merawat cucu saya yang ditinggalkan orang tuanya,”.
Berbagai permasalahan begitu banyak ditempat ini, mulai masalah kemiskinan dan perceraian orang tua sehingga menyebabkan banyaknya permasalahan balita. Di Yayasan An’Nur lebih parah lagi, yayasan yang letaknya di tempat pembuangan sampah ini sangat memprihatinkan. Pada saat rombongan Subdit anak balita meninjau lokasi tersebut anak anak balita bermain dengan sampah dan lalat yang beterbangan kian kemari, orang tua mereka kebanyakan pemulung tanpa memperhatikan kesehatan beberapa balita makan ditemani oleh lalat dan debu.
Kondisi ini menggugah hati untuk melaksanakan pelayanan agar anak-anak ini mendapatkan haknya sepabagaimana anak-anak yang lain. Kasubdit Pelayanan Sosial Anak Balita dan Pengangkatan Anak Trihana Ningsih mengatakan, “mudah-mudahan tahun 2011 mereka mendapatkan pelayayanan dan bantuan dari Kementerian Sosial, kita berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka. Sekarang sedang dilakukan pendataan di bantu oleh satuan bhakti pekerjaan social (sakti peksos)”.

Kemiskinan di Indonesia menjadi faktor utama melonjaknya penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Jumlah anak-anak yang ditelantarkan orang tua, semakin hari semakin meningkat, bahkan anak balita yang ditinggalkan/dibuang oleh orang tua semakin sering kita dengar di media cetak maupun media elektronik. Hal tersebut membuat Direktorat Pelayanan Anak terus berupaya keras untuk mendobrak stigma pelayanan sosial agar tidak dianggap sebagai masalah yang tak penting. Dalam UUD 1945 jelas dikatakan negara berkewajiban menanggung orang miskin dan anak terlantar. Namun dalam mengalokasikan anggaran seolah-olah sebagai amal atau charity, jauh dari anggaran untuk bidang lain.

Perkembangan anak pada usia dini (sampai dengan umur 6 tahun) berada dalam usia periode emas (golden age), yaitu masa dimana anak memiliki kemampuan optimal dalam mengembangkan keseluruhan karakter diri sesuai dengan stimulus dan ini berpotensi anak dirangsang secara optimal. Maka kelak proses pembentukan dan perkembangan karakter kepribadiannya pada masa anak-anak, dan proses menuju dewasa akan mengalami berbagai hambatan secara fisik, mental dan social. Maka diharapkan anak usia dini memperoleh dukungan lingkungan social berupa pengasuhan, pemeliharaan, perwalian, pembiayaan, pendidikan, pembinaan dan perlindungan sejak awalKunjungan yang dilakukan oleh Direktorat Pelayanan Sosial Anak ke TPA Inawah di jalan Rancing Centre AA. 5 Kota Makasar membuka pikiran kita bersama untuk mendobrak pelayanan di lokasi tersebut. Terletak di pinggiran kali dan tempat yang kumuh dan pekerjaan orang tua rata menarik beca dengan penghasilan antara Rp. 10.000 – 20.000/harinya. Dengan kondisi tersebut anak balita tidak memperoleh kesempatan bertumbuh dan belajar dengan baik. Hal ini sangat memprihatinkan, seharusnya ada yayasan yang menangani anak terutama anak balita dilokasi tersebut. Menurut penuturan Primadita, S.Sos satuan bhakti pekerjaan sosial ( sakti Peksos) dilokasi tersebut mengatakan, “seharusnya harus didirikan yayasan anak balita di tempat ini, saya bahu membahu dengan pekerja sosial masyarakat disini berupaya memberikan pelayanan yang diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan anak balita, seperti belajar dan bermain, namun kami perlu tempat dan dana untuk melakukan pelayanan di tempat ini,” begitu juga penuturan dari ibu Leli, ibu Leli menceritakan ,”cucu yang saya bawa ini ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, saya sebenarnya tidak kuat lagi merawat anak ini sebab saya harus mencari uang untuk membantu suami saya sebagai tukang beca, namun apa boleh buat saya harus merawat cucu saya yang ditinggalkan orang tuanya,”.

Berbagai permasalahan begitu banyak ditempat ini, mulai masalah kemiskinan dan perceraian orang tua sehingga menyebabkan banyaknya permasalahan balita. Di Yayasan An’Nur lebih parah lagi, yayasan yang letaknya di tempat pembuangan sampah ini sangat memprihatinkan. Pada saat rombongan Subdit anak balita meninjau lokasi tersebut anak anak balita bermain dengan sampah dan lalat yang beterbangan kian kemari, orang tua mereka kebanyakan pemulung tanpa memperhatikan kesehatan beberapa balita makan ditemani oleh lalat dan debu.

Kondisi ini menggugah hati untuk melaksanakan pelayanan agar anak-anak ini mendapatkan haknya sepabagaimana anak-anak yang lain. Kasubdit Pelayanan Sosial Anak Balita dan Pengangkatan Anak Trihana Ningsih mengatakan, “mudah-mudahan tahun 2011 mereka mendapatkan pelayayanan dan bantuan dari Kementerian Sosial, kita berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka. Sekarang sedang dilakukan pendataan di bantu oleh satuan bhakti pekerjaan social (sakti peksos)”.


donasi q

Artikel Lainnya :

One thought on “Anak Balita Perlu Bantuan dan Perhatian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s