Implementasi Pendidikan Ketrampilan berbasis Kemandirian bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Oleh
Dr. Mudjito A.K, M.Si

Pendidikan secara umum bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, termasuk program layanan pendidikan bagi ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).

ABK dibedakan jenisnya yaitu ABK dengan disabilitas dan ABK non disabilitas. Amanat pada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Nomor 20 tahun 2003 pada Pasal 32 Ayat 1 tentang pendidikan khusus (PK) seperti untuk anak dengan disabilitas (cacat), kemudian anak cerdas istimewa (CI) dan bakat istimewa (BI).

Pada Ayat 2 tentang Pendidikan Layanan Khusus (PLK) seperti anak jalanan, anak dari keluarga miskin absolut, anak korban trafficking, anak TKI, anak korban bencana, anak pelacur dan pelacur anak, anak korban narkoba dan HIV/AIDS, anak di daerah terpencil atau anak suku pedalaman atau anak pulau-pulau, dan lapas anak.

World Health Organization (WHO) telah mengidentifikasi ketunaan, kecacatan, dan handicap sebegai berikut: (1) Ketunaan atau kelainan adalah kehilangan yang temporer atau permanen atau keabnormalan dari struktur atau fungsi tubuh baim fisiologi atau psikologis. (2) Disabilitas atau kecacatan adalah keterbatasan atau ketidakmampuan untuk melakukan aktifitas dengan cara atau di dalam rentang yang dianggap normal untuk orang banyak yang pada umumnya disebabkan oleh kelainan. (3) Handicap adalah akibat kelainan atau kecacatan yang membatasi atau menghalangi pemenuhan satu atau beberapa peran yang dianggap normal, tergantung pada jenis kelamin, usia, dan faktor budaya.

Kurikulum bagi ABK dengan disabilitas digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran yang dipersiapkan untuk mencapai kemandirian anak. Kategori ABK dengan disabilitas itu diantaranya adalah tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita, down syndrome, autis, disleksia, kesulitan dalam belajar dan hiperaktif (ADHD), tunaganda.

Terutama dalam proses belajar mengajar bagi ABK dengan disabilitas –terutama yang IQ (Intelligence Quotient) di bawah angka 70– maka diprioritaskan sebanyak 80 persen muatan ketrampilan dan sisanya adalah pendidikan akademik seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA). Sebanyak 80% keterampilan kecakapan hidup itu pun disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan potensi yang ada di daerah.

Kurikulum bagi ABK dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan  kemasyarakatan, dunia usaha dan  dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, dan keterampilan sosial, merupakan salah satu mencakup keseluruhan dimensi kompetensi yang meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor, mata pelajaran.

Berbagai model pembelajaran bagi ABK jenjang pendidikan dasar (usia 7-15 tahun) dikembangkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan bakat dan minat peserta didik, menumbuhkembangkan bakat dan minat peserta didik, mempersiapkan peserta didik sebagai bagian dari anggota masyarakat yang mandiri serta mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sebagai negara yang berada di persimpangan samudera, iklim dan lalu lintas dunia, Indonesia mempunyai kekayaan alam yang luar biasa, oleh karena itu diperlukan pendidikan keterampilan bagi ABK yang berkapasitas untuk memanfaatkan potensi lokal menjadi produk barang dan jasa unggulan yang dapat diterima oleh pasar nasional maupun internasional. Jenis keterampilan yang diberikan adalah keterampilan kerja praktis dan tidak memerlukan legalitas formal akademis serta mudah dilakukan serta berorientasi kerja.

Pemerintah dlam hal ini Direktorat Pembinaan PKLK Dikdas telah memfasilitasi SLB Pembina baik tingkat nasional maupun provinsi yang disebut dengan Sentra PK-PLK dengan berbagai peralatan keterampilan guna menyiapkan peserta didik agar mampu mengembangkan keterampilan hidup di masyarakat. Pilihan jenis ketrampilan cukup beragam agar peserta didik dapat membuat keputusan, kreatif dengan kemampuan vokasional yang adaptif dan efektif.

Pelatihan ketrampilan yang dilakukan oleh Kemdiknas dirancang untuk mempersiapkan ABK untuk praktek di bidang multi disiplin kompetensi untuk menjadi seorang mandiri, profesional yang dapat produknya memiliki daya saing di pasaran. Hal ini seiring untuk menunjang program pemerintah dalam menggalakkan industri ekonomi kreatif.

Ada 14 industri yang diidentifikasi sebagai industri kreatif: (1) arsitektur, (2) desain, (3) kerajinan, (4) layanan komputer dan peranti lunak, (5) mode, (6) musik, (7) pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan dan percetakan, (9) periklanan, (10) permainan interaktif, (11) riset dan pengembangan, (12) seni pertunjukan, (13) televisi dan radio, serta (14) video, film, dan fotografi. Bagi sebagian ABK memiliki kemampuan yang sama untuk mengambil peran dalam program pemerintah tersebut, asalkan mereka diberikan kesempatan dan pembinaan atau pun diberi pelatihan ketrampilan sesuai dengan jenis kemampuan disabilitasnya.

Berbagai program keterampilan yang telah dilaksanakan pada Sentra PK-PLK diseluruh Indonesia yang dipusatkan pada SLB Negeri Pembinan maupun SLB Negeri di tingkat kabupaten/kota yang meliputi: kriya, melukis, mematung, potong rambut, tataboga, sablon, komputer, internet, tata busana, modeling, pertukangan, akupresure, membuat layang-layang, dan hantaran. Ada juga yang menyelenggarakan kegiatan pelatihan bagi ABK seperti kewirausahaan sederhana, praktik merawat tanaman, dan merangkai bunga, membuat pupuk dari sampah organik, ketrampilan bidang perikanan, ketrampilan bahasa asing, pantomim atau teater, olah vokal dan bermusik.

Sementara pada anak-anak penyandang tunanetra, tunadaksa, dan tunarungu, yang memiliki IQ diatas rata-rata atau sama dengan IQ anak normal maka potensi kecerdasan mereka masih dapat diasah lagi, karena pada dasarnya intelegensi ketiga siswa dengan disabilitas ini dianggap normal. Sehingga sejak tahun 2009, ketiga jenis ketunaan itu dilibatkan dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang MIPA. Namun, yang lebih utama, mereka bisa mandiri, dan hal itu menjadi program utama dalam pendidikan nasional. Bahkan jika ditekuni, mereka dapat mengusai bidang tertentu seperti sains maupun teknologi informasi dan komunikasi.

Semua anak mempunyai potensi, kemampuan dan hak yang sama untuk tidak didiskriminasikan dan memperoleh pendidikan yang bermutu. Dan ini juga menyadarkan kita bahwa sekolah umum serta guru mempunyai kemampuan untuk belajar merespon dari kebutuhan pembelajaran anak yang berbeda-beda.

Dengan demikian beberapa program pengembangan pendidikan keterampilan bagi ABK pada pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan dasar diharapkan dapat memandirikan ABK dalam kehidupan bermasyarakat.[\]

Yogyakarta 11 Oktober 2011


donasi q

Artikel Lainnya :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s